Alan TH

Matthes dalam misinya mengumpulkan karya sastra, terutama potongan-potongan I La Galigo, di seantero Zuid Celebes. Ia rela keluar masuk pedalaman agar semakin memahami bahasa Bugis, yang akan memudahkannya dalam penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa lingua franca pulau itu. Colliq Pujié membantunya dalam membuat salinan I La Galigo agar kelak dapat dibawa ke Belanda.
Colliq Pujié lanjut menulis attoriolong yang mengisahkan sejarah Kedatuan Tanete dan di sekitarnya. Ia rela menghabiskan waktu siang malam duduk di meja di dalam rumah pengasingan. Tak lelah ia membaca salinan arsip-arsip pemerintah yang dibuat oleh Matthes. Ia hendak memperoleh sudut pandang lain, membandingkan ingatan masa kecilnya dengan apa yang diketahui pihak yang berseberangan dengannya.
Namun, seperti cuaca di negeri tropis yang terkadang diterpa badai atau kemarau panjang, begitu pula kehidupan mereka. Matthes dan Colliq Pujié harus menghadapi kehilangan seseorang yang sangat berarti bagi hidup masing-masing. Dan tantangan untuk menghadapi kehilangan rupanya lebih sulit daripada menemukan potongan I La Galigo.
Inilah buku terakhir dari trilogi yang mengisahkan dua orang dengan dua tujuan yang berbeda, tetapi terus bahu-membahu hingga saling mengerti satu sama lain.