Ai Takeshita

Remy Sylado, yang wafat pada 2022 pada usia 78 tahun, meninggalkan jejak sebagai salah satu tokoh paling serba bisa dalam sejarah kebudayaan Indonesia: penulis, musisi, pelukis, sekaligus kritikus. Namun, di balik gelar “maestro” dan tumpukan penghargaan yang disandangnya, tersimpan kisah tahun-tahun terakhir yang sunyi. Ai Takeshita menelusuri kembali titik awal perjalanan kreatifnya di dunia teater Bandung pada 1970-an, ketika arus budaya Barat baru saja membanjiri kota itu pascapergantian rezim politik, dan seorang anak muda bernama Sylado tampil bagai kembang api: menyala terang, memikat, lalu menghilang tanpa jejak rekaman yang tersisa.
Lewat wawancara dengan berbagai orang yang pernah mengenalnya—rekan teater, kerabat, sahabat—Takeshita berupaya merangkai sosok Sylado yang penuh kontradiksi dan sulit dipahami itu secara utuh. Biografi superpendek ini menyingkap dualitas yang membentuk hidup dan karya sang maestro melalui penelusuran persinggungan Sylado dengan dua orang Belanda yang sama-sama bernama Brouwer.