Hariyo T. Wibisono et al
HARIMAU dan macan tutul jawa memiliki citra ambigu dalam masyarakat Jawa. Satu sisi, kedua satwa liar endemik Jawa ini dianggap sebagai simbol kuasa, di sisi lain dianggap sebagai musuh manusia. Sebagai simbol kuasa, wajahnya bisa dilacak dalam sosok singo barong, misalnya, tokoh dalam kesenian Reog Ponorogo. Sementara sebagai musuh manusia, nasibnya mengenaskan, seperti tercermin dalam tradisi Sima Maesa dan Rampog Macan—pertarungan harimau atau macan dengan kerbau serta penombakan ramai-ramai hingga tewas.
Jawa kini telah kehilangan harimau jawa. Tahun 2008 predator puncak ini dinyatakan punah oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature). Sekarang, lembaga yang sama pada 2021 mengategorikan macan tutul jawa terancam punah. Perkiraan Sintas—lembaga konservasi satwa liar—di seluruh Pulau Jawa kini tinggal sekitar 324 individu berbiak (mature individuals) yang masih bertahan di alam liar. Angka ini menjadikan macan tutul jawa sebagai salah satu anak jenis macan tutul paling terancam di muka Bumi.
Macan Tutul Jawa: Penjaga Hutan Jawadipa merupakan upaya literasi penyelamatan macan tutul jawa dari kepunahan. Jika macan tutul jawa punah, hutan Jawa akan kehilangan daya dukungnya. Disertai ilustrasi, infografi, foto-foto lama, serta foto-foto dari lapangan, buku ini ditulis secara populer. Mengajak kita berkelana dan memahami betapa keberadaan harimau dan macan tutul jawa telah membentang jauh dalam kehidupan dan budaya manusia Jawa.
Publisher: Kepustakaan Populer Gramedia
Editors:
Cover Artists:
Genres: