Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Trayek saya memang hanya melewati Dipatiukur-Leuwipanjang, sebelum akhirnya bertemu Beliau, dan memulai trayek baru: mengelilingi angkasa, melintasi dimensi ruang dan waktu.
"Naskah Semua Ikan di Langit adalah serangkaian eksperimentasi yang tetap menyesuaikan diri pada bentuk-bentuk yang sudah ada. Ia ditulis dengan keterampilan bahasa yang berada di atas rata-rata para peserta Sayembara kali ini. Bukan hanya kemampuan mengorganisasikan setiap elemen novel yang tampak unggul, tetapi kemampuan pengarang dalam menata kalimat demi kalimat memperlihatkan kemahiran yang nyata dan langka. Bahasa Indonesia yang digunakan penulis sangatlah bersih. Kalimat-kalimatnya kokoh dan jauh dari salah cetak. Bahasa Indonesia baku berkelindan dengan ragam cakapan Jakarta, deskripsi berbaur dengan tuturan tokoh, dan semua itu berlangsung dengan sangat mulus. Plastisitas bahasa membuat naskah ini prosa sekaligus puisi. Kendati demikian, watak puitis ini tidak membuat alurnya tersendat, melainkan terus membawa pembacanya dalam arus metafora yang berbinar di setiap titiknya. Cara penceritaannya santai, musikal dan pada bagian-bagian lain tampak menyedihkan dan getir. Inti ceritanya sejatinya tidak secerah pembungkusnya: perjuangan, perjalanan, kekecewaan, kehancuran, kerinduan. Pada akhirnya, ia adalah naskah novel yang mampu merekahkan miris dan manis pada saat bersamaan."
JURI SAYEMBARA MENULIS NOVEL DEWAN KESENIAN JAKARTA