Warsito

Memoar ini berkisah tentang seorang anak kampung di Jawa Timur yang berjuang lepas dari kemiskinan lewat pendidikan. Tentang rasa rendah diri seorang anak yang akhirnya membuahkan “dendam” untuk membangun impian baru. Terdengar biasa memang. Namun berbeda dari buku semacam, halaman demi halaman menyuguhkan serangkaian drama yang memancing rasa penasaran untuk mengikuti kisah sang tokoh hingga akhir.
Ambil misal ketika sang tokoh diinterogasi polisi atas tuduhan terorisme, ketika dia menempuh pendidikan tinggi di Prancis. “Tangan saya dingin, seperti baru dicelupkan ke dalam es.... Panggilan pertama tertanggal dua minggu silam. Panggilan kedua dikirim lima hari setelahnya. Dan yang ketiga, yang baru saja saya temukan di atas ranjang, berbunyi tegas dan sedikit mengancam. 3ème convocation: Dernier rappel avant procédure—panggilan ketiga: Peringatan terakhir sebelum tindakan lebih lanjut.” Penulis sengaja menyertakan percakapan-percakapan dalam bahasa Prancis—juga Jawa—untuk membangun nuansa.
Bertutur secara tidak linier dan kronologis, sang tokoh sekaligus membabarkan dunia batin seorang anak yang lahir dari keluarga miskin tanpa kehilangan rasa humor. “Libur itu kesedihan bagi anak-anak, tapi kebahagiaan bagi orangtua…. liburan bagi saya bukan waktu untuk istirahat, tapi waktu untuk bekerja.”